Home info Penelitian Terbaru Desak Masyarakat Untuk Segera Meninggalkan Sosial Media, Berikut Alasannya

Penelitian Terbaru Desak Masyarakat Untuk Segera Meninggalkan Sosial Media, Berikut Alasannya

28 min read
0
512

Di dunia seperti sekarang ini, baik itu disadari atau tidak, media sosial kini telah menjadi pusat dari kehidupan manusia atau masyarakat.

Benar memang kalau media ini sangatlah membantu kita untuk tetap berhubungan dengan teman-teman, mempromosikan pekerjaan dan mengikuti berita-berita terbaru nasional ataupun internasional. Dan hampir segala sesuatu bisa kita dapatkan di dalamnya.

Akan tetapi sayangnya, hal ini bisa menimbulkan beberapa efek atau dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental pada sebagian orang, terutama pada mereka yang terlalu fanatik dalam menggunakan media sosial tersebut.

Bagaimana jaringan ini bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik kita? Apakah sudah waktunya untuk beristirahat dari media online tersebut secara permanen? Sebentar lagi anda akan segera menemukan jawabannya. Bersiaplah untuk menerima informasi berharga ini dari kami.

Saat ini, kita memiliki banyak sekali situs jejaring sosial yang bisa dipilih semau dan sepuasnya. Dan sepertinya, pilihan tersebut akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan kami yakin anda pun tengah merasakan hal tersebut.

Banyak orang yang saat ini benar-benar memegang banyak akun di berbagai media sosial, yang dapat mereka gunakan untuk tujuan yang berbeda-beda.

Ada yang mungkin menggunakan satu akunnya untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga, sedangkan yang satunya lagi untuk tetap up to date dengan perkembangan penelitian terbaru dan masih banyak lagi kegunaan-kegunaan yang lainnya.

Akan tetapi, semakin lama sepertinya banyak yang mulai menyadari bahwa sekarang ini sebagian besar waktu mereka telah direnggut oleh benda mati tersebut.

Sesaat mungkin beberapa pertanyaan pun mulai melintas di dalam pikiran, seperti : bagaimana jika saya hanya membuang-buang banyak waktu saya untuk membaca berita dan bukannya benar-benar untuk menulis berita? Atau, bagaimana jika teman-teman di media sosial saya sebenarnya telah melakukan lebih banyak hal di dalam hidup mereka dibandingkan dengan saya?

Nah, ketika pikiran-pikiran ini mulai menyerang, individu tersebut akan merasakan seolah-olah media sosial itu adalah semacam lubang hitam, yang menyedot waktu serta energi mental dan emosional peggunanya. Apakah seharusnya kita lebih baik mengurangi kebiasan tersebut atau menghentikannya?

Tenang dan tidak usah gusar, karena bukan anda saja satu-satunya orang yang memiliki masalah dengan ini. Kalau tidak percaya, coba saja wawancara teman-teman anda atau orang-orang yang berada di sekeliling anda. Pasti anda akan menemukan fakta bahwa perasaan tidak nyaman dengan media sosial ini sudah menjadi hal yang sangat umum.

Beberapa orang mengatakan bahwa, media sosial yang mereka gunakan telah banyak menyita waktu mereka dan membuat mereka kehilangan banyak moment-moment menyenangkan yang seharusnya mereka nikmati, seperti sebagian orang yang telah memutuskan untuk meninggalkan media sosialnya.

Lihatlah, betapa berbahayanya dampak dari penggunaan media sosial tersebut untuk anda jika anda tak bisa mengaturnya dengan baik. Sekalipun anda tahu bahwa itu semua hanyalah dunia fantasi dan tidak nyata, namun tidak ada kata tidak mungkin untuk anda tersedot ke dalamnya dan mengambil alih seluruh kehidupan anda.

Cobalah untuk meninggalkan rutinitas maya anda tersebut untuk beberapa waktu, kemudian rasakan hal berbeda yang bisa anda dapatkan. Pasti akan sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga atau teman sambil bersenda gurau, daripada anda hanya sibuk mengutak atik smartphone anda.

Selama beberapa tahun terakhir, banyak orang terutama dari generasi muda yang telah meninggalkan situs web jejaring sosial mereka dan mulai melakukan aktivitas layaknya manusia-manusia yang lain.

Pembicaraan viral dari mereka yang meninggalkan media sosial selama sebulan atau lebih menunjukkan bahwa tindakan tersebut telah membantu mereka menjadi lebih rileks, fokus dan produktif. Tetapi apakah penelitian ilmiah mendukung kesimpulan yang bersifat anekdot ini?

Dan ternyata, jawabannya adalah “iya”. Inilah yang para ilmuwan katakan.

Media Sosial Mempengaruhi Kesehatan Mental

 

Sejumlah penelitian telah menghubungkan penggunaan media sosial dengan peningkatan tingkat depresi, kecemasan dan isolasi yang dialami oleh sebagian orang.

Para pecinta media sosial pada umumnya memiliki resiko dua kali lebih mudah untuk mengalami depresi, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang kurang antusias dengan benda tersebut.

Sebuah penelitian berhasil mengungkapkan bahwa pengguna medsos yang lebih muda ataupun yang tua, keduanya sama-sama berada dalam bahaya yang sama, yaitu berada di bawah tekanan cara kerja situs web jejaring sosial.

Sebuah studi yang diterbitkan beberapa bulan lalu menemukan bahwa di antara anak-anak berusia 10 tahun yang aktif di Internet dan akun media sosial, cenderung akan memiliki dampak negatif pada kesejahteraan mereka nantinya ketika mereka memasuki masa remaja dan mungkin akan terus mengalaminya sepanjang masa dewasa mereka.

Menurut hasil penelitian yang bisa dikatakan sebuah penelitian besar yang dilakukan pada tahun 2016, di antara pengguna kategori dewasa muda, media sosial berperan meningkatkan masalah kecemasan dan depresi.

Bahkan, para peneliti melihat bahwa pengguna yang sering memeriksa akun mereka memiliki resiko depresi lebih dari dua kali lipat daripada rekan sebaya yang kurang berorientasi pada media sosial.

Ini mungkin sebagiannya disebabkan oleh fakta bahwa jejaring sosial menciptakan kebutuhan buatan, yang tersedia selama 24 jam selama 7 hari, untuk menanggapi pesan dan reaksi emoji secara instan. Namun, sikap ini menciptakan sejumlah tekanan rendah yang tidak diperlukan, yang akan mempengaruhi kesehatan emosi anda.

Dan, terlepas dari fakta bahwa platform tersebut seharusnya meningkatkan rasa keterkaitan atau hubungan kita dengan orang lain, penelitian telah menemukan bahwa mereka benar-benar memiliki efek yang sebaliknya, dimana mereka malah membuat pengguna lebih cenderung mengalami rasa kesepian dan lebih terisolasi.

Namun, ini seharusnya tidak lagi terlalu mengejutkan anda. Hyperconnectedness terjadi pada tingkat yang dangkal, menghilangkan semua elemen ekstra yang membuat komunikasi menjadi berharga dan konstruktif secara psikologis.

Unsur-unsur yang terkait dengan hal tersebut adalah termasuk kontak mata, bahasa tubuh, kemungkinan mendengarkan perubahan nada bicara lawan bicara anda, atau kemungkinan sentuhan fisik.

Pemicu Rusaknya Hubungan Sosial Dengan Orang Lain

Situs media sosial juga dapat menimbulkan rasa kesepian pada mereka yang terlalu bergantung pada mereka, dengan merusak kualitas hubungan mereka dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk orang tua dan keluarga, baik dengan cara langsung maupun tidak langsung.

Coba perhatikan gambar di atas, kedua pasangan tersebut asyik sendiri dengan ponsel atau smartphone mereka masing-masing dan saling tak memperdulikan satu sama lain, meskipun mereka sedang duduk bersebelahan. Seram sekali kan? Apakah anda pernah berada pada posisi seperti itu dengan pasangan anda?

Contoh di atas secara tidak langsung bisa menjadi bukti bahwa saat ini media sosial dapat membuat orang tidak memperdulikan orang lain yang berada di sampingnya dan membuat orang lain seperti terpisah walaupun berada di tempat yang sama atau bahkan bersebelahan.

Kita lebih senang berhubungan dengan benda mati daripada bersosialisasi dengan makhluk hidup lainnya. Ada rasa kepuasan tersendiri yang biasanya dirasakan oleh seorang pengguna fanatik media sosial ketika mereka mendapatkan pujian yang bersifat maya lewat komentar yang diketikkan orang di kolom komentarnya, saat Ia mengupdate sesuatu di sosial medianya.

Atau mungkin mereka merasa cukup bahagia saat melihat update-tan orang lain yang lucu dan memalukan dibandingkan mendengarkan lelucon yang dilontarkan orang lain dalam dunia nyata. Ini benar-benar aneh dan tak bisa dibiarkan terjadi secara terus-menerus.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di dalam jurnal Computers in Human Behavior, menunjukkan bahwa momen-momen ini seringkali dapat merusak hubungan dengan cara yang tidak dapat diperbaiki.

“Kami menemukan,” jelas rekan penulis studi Yvette Wohn, “bahwa orang-orang yang mencoba menghapus atau membenarkan konten memalukan sebenarnya mengalami penurunan dalam hubungan mereka dengan pelaku. Mungkin penting bagi orang-orang untuk mengetahui bahwa mencoba terlibat terlalu dalam dengan media sosial juga dapat mengorbankan hubungan pribadi.

Bukan hanya itu saja, hal-hal yang anda posting di halaman pribadi anda juga memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan. Komentar, tautan dan tanda kutip yang dibagikan di luar konteks, atau lelucon yang salah dapat dua kali lipat lebih merusak.

Tidak semua orang di media sosial tersebut kita kenal dengan baik, kita tidak tahu bagaimana respon mereka ketika membaca atau melihat update-tan kita di media sosial. Ini bisa menimbulkan perselisihan atau hal-hal buruk yang lainnya. Anda paham kan maksudnya?

“Media sosial instan, dalam beberapa kasus dapat menjangkau jutaan orang sekaligus dan bahkan dapat memicu perilaku baru. Kita sering bahkan tidak tahu siapa yang mungkin akhirnya membacanya dan bagaimana itu akan mempengaruhi mereka,” kata Nels Oscar untuk memperingatkan.

Nel Oscar telah melakukan studi tentang bagaimana situs web jejaring sosial menciptakan stereotip, yaitu penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan.

Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.

Namun, stereotipe dapat berupa prasangka positif dan juga negatif dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian beranganggapan bahwa segala bentuk stereotipe adalah negatif.

Penelitiannya berfokus pada jenis pandangan orang tentang penyakit Alzheimer yang dibagikan (dishare) melalui media sosial. Temuan tersebut ternyata mendapatkan hasil yang mengejutkan. Studi ini melihat bahwa sekitar 21,13 persen dari semua Tweet […] menggunakan kata kunci terkait penyakit Alzheimer dalam mode stigmatisasi.

Stigmatisasi adalah tanda bahwa seseorang dianggap ternoda dan karenanya mempunyai watak yang tercela, misalnya seorang bekas narapidana yang dianggap tidak layak dipercayai dan dihormati.

“Sebuah poin yang banyak orang tidak mengerti ketika menggunakan media sosial adalah bahwa niat mereka sering tidak relevan. Semua orang akhirnya hanya terfokus pada komentar, tanpa konteks lain dan harus berurusan dengan rasa sakit yang dapat ditimbulkan.” – Nels Oscar

Memicu Perilaku Berbahaya Pada Seseorang

Alasan lain untuk waspada terhadap berapa banyak waktu yang anda habiskan di jaringan media sosial adalah karena mereka memang dirancang untuk membuat anda kembali lagi dan tidak akan berhenti menggunakan mereka.

Penelitian telah menunjukkan bahwa, apa yang kita lihat di media sosial nyatanya dapat membawa seseorang untuk membuat atau mengambil keputusan yang buruk dan membentuk kebiasaan yang berbahaya.

Tahun lalu, para peneliti di Amerika Serikat dan Belanda telah melihat tingkat dimana seseorang bisa dikondisikan atau dinyatakan dalam kondisi tertentu dari respon atau tanggapan yang diberikannya. Ini bisa berupa isyarat visual sederhana yang terkait dengan media sosial.

Alhasil, dari data yang berhasil dikumpulkan, mereka menemukan bahwa hanya dengan melihat logo Facebook saja, sebagian besar orang akan langsung masuk ke situs web tersebut dan melihat umpan mereka.

Dengan kata lain, orang-orang telah belajar untuk secara otomatis mengklik media ini, seolah-olah ada perintah di otak yang menyuruh untuk melakukannya, tanpa harus memikirkannya terlebih dulu.

Seperangkat eksperimen lain, yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya, mencapai kesimpulan yang bahkan lebih mengkhawatirkan lagi. Eksperimen tersebut mendapati bahwa tanpa disadari, media sosial bisa mengajarkan berbagai cara negatif untuk mendorong perilaku irasional di dunia nyata yang sebenarnya.

Vincent F. Hendricks, dari Universitas Kopenhagen dan Pelle Hansen, dari Universitas Roskilde, saat berada di Denmarkm keduanya menjelaskan bahwa:

“Dengan munculnya teknologi informasi modern, kita lebih sering berindak dengan tidak mengambil keputusan dasar pada sinyal publik agregat, seperti like, upvote, atau retweet pada platform media sosial seperti Facebook dan Twitter daripada meluangkan waktu untuk merenung dan berunding dengan diri sendiri, dengan kemungkinan besar konsekuensi untuk demokrasi. “

Juga, aspek “groomed” dari apa yang kita lihat di media sosial dapat membawa kita untuk membuat keputusan yang berbahaya, tanpa menyadari betapa berbahayanya mereka sebenarnya.

Sebuah studi dari University of Houston di Texas menyelidiki bagaimana dan mengapa mahasiswa bisa jatuh ke dalam pengaruh minuman keras setelah mereka membaca postingan yang tidak benar, yang dibagikan oleh teman-teman mereka secara online.

Artinya, ketika melihat teman di media sosial mengupdate foto mereka atau status mereka yang tengah meminum minuman keras, sambil memperlihatkan atau menunjukkan bahwa minuman tersebut bisa memberikan mereka kesenangan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, dalam sekejap akan muncul hasrat untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan.

Inilah maksud dari mengapa sosial media yang anda mainkan setiap harinya bisa memberikan pengaruh yang buruk untuk anda.

Beresiko Untuk Kesehatan Fisik

Kehadiran media sosial yang terlalu aktif dan agresif dapat meninggalkan jejak yang tidak baik, yang tidak hanya pada kesehatan mental seperti yang dijelaskan pertama tadi, tetapi juga pada kesehatan fisik anda, terutama dengan cara mengubah pola tidur anda.

Sebuah studi tahun 2014 terhadap orang dewasa di Amerika Serikat yang berusia sekitar 19–32 tahun, menemukan bahwa para peserta tersebut memiliki rata-rata kebiasaan memeriksa akun media sosial mereka selama lebih dari satu jam per hari, dan sekitar 30 kali per minggu.

Sebanyak 57 persen dari pengguna ini melaporkan bahwa mereka mengalami gangguan tidur. Para peneliti berpendapat bahwa alasan di balik mengapa pengguna media sosial sering mengalami waktu tidur yang buruk adalah dikarenakan:

  • Fakta bahwa mereka memiliki dorongan untuk terus dan selalu aktif di situs web mereka setiap jamnya, termasuk pada waktu larut malam.
  • Ada kemungkinan bahwa penggunaan media sosial “dapat meningkatkan gairah emosional, kognitif dan fisiologis”.
  • Fakta bahwa paparan layar terang sebelum tidur telah dikaitkan dengan tidur yang terganggu.

Penelitian yang diterbitkan di dalam jurnal Acta Paediatrica mengatakan bahwa, hal yang sama juga berlaku untuk pengguna yang lebih muda, yaitu mereka yang berada pada rentang usia sekitar 11-20 tahun.

Dari 5.242 peserta studi, ditemukan bahwa 73,4 persen diantaranya telah melaporkan bahwa mereka menggunakan media sosial setidaknya selama 1 jam setiap hari dan 63,6 persen diantaranya melaporkan mereka mengalami masalah kurang tidur.

“Dampak media sosial yang dapat mempengaruhi pola tidur adalah topik yang sangat menarik, mengingat efek buruk yang dapat ditimbulkannya, yang dapat menyebabkan si pengguna menjadi kurang tidur yang berakibat pada kesehatan.” kata penulis Dr. Jean-Philippe Chaput.

Menurunkan Produktivitas

Hal terakhir yang juga tak kalah penting mengenai efek yang bisa ditimbulkan oleh penggunaan media sosial secara berlebihan, yang ditemukan melalui proses penelitian yang dilakukan baru-baru ini adalah sebagai berikut.

Dari data yang didapat, para peneliti berhasil membuktikan bahwa ketergantungan terhadap platform media sosial dapat berdampak negatif terhadap kehidupan kreatif dan profesional anda sendiri dengan cara yang rumit.

Sebuah makalah penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam Journal of Applied Social Psychologymengatakan bahwa kebanyakan dari kita telah menghabiskan lebih banyak waktu di jejaring sosial daripada yang kita pikirkan. Hal tersebut menyebabkan kita membuang salah satu sumber daya paling berharga dalam hidup, yaitu : waktu.

“Kami menemukan bukti bahwa rangsangan terkait Internet dan Facebook dapat mendistorsi persepsi waktu karena adanya mekanisme terkait perhatian dan rangsangan”, kata para peneliti.

Sebuah laporan juga menunjukkan bahwa bahkan ketika anda sedang bekerja sekalipun, anda masih saja sempat memeriksa apakah anda memiliki “like” dan komentar terbaru di akun media sosial anda atau tidak.

Satu set data juga menunjukkan bahwa kebanyakan karyawan rata-rata menghabiskan sekitar 2,35 jam per hari untuk mengakses akun media sosial mereka di tempat kerja. Kalau anda tidak percaya, coba saja hitung berapa lama anda menghabiskan atau membuang waktu anda hanya untuk tetap eksis di media sosial?

Media sosial juga telah menyebabkan atau menimbulkan tindakan multitasking oleh para penggunanya. Platform semacam itu akan mendorong anda untuk terus beralih di antara tugas-tugas, atau mencoba melakukan banyak tugas pada waktu yang sama, seperti mendengarkan video  sambil membaca komentar yang tertera di video tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita melakukan banyak tugas dalam waktu yang bersamaan seperti itu, kita akan kehilangan kemampuan untuk fokus pada satu tugas pada satu waktu tertentu.

Itulah sebabnya mengapa anda sering merasa bahwa membaca artikel atau postingan di blog terlihat lebih sulit dan menganggap membaca buku dengan 200 halaman sebagai hal yang mustahil.

Jadi, inti dari apa yang telah kami sampaikan di sini adalah, kami berharap ketika anda selesai membaca seluruh penjelasan tersebut, atau setidaknya beberapa poin di atas, anda bisa lebih mempertimbangkan “detoks” yang bisa diakibatkan oleh penggunaan media sosial yang berlebihan tersebut, kemudian mengubahnya.

Cobalah untuk berhenti menggunakan media sosial untuk beberapa waktu. Kalau perlu, hapus semua aplikasi sosial anda atau pasang widget pemblokiran media sosial di browser anda dan lihat bagaimana perasaan anda setelah beberapa hari atau mungkin dalam hitungan minggu, atau bahkan berbulan-bulan tanpa banyak gangguan tersebut.

Kalau anda merasa hal ini sangat sulit untuk dilakukan, cobalah untuk melakukannya secara perlahan. Misalnya, mengurangi aktivitas di media sosial dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang lain di kehidupan nyata. Kalau ini berhasil anda lakukan, maka anda siap melanjutkannya pada tahap yang lebih ekstrim, yaitu berhenti menggunakannya.

Sebenarnya bukan media sosialnya yang salah, melainkan anda dan orang lain yang menggunakannya tanpa bisa mengendalikannya. Coba saja kalau anda bisa mengendalikan hal tersebut, pasti bukan dampak negatif seperti yang tertera di atas yang akan anda dapatkan, melainkan yang sebaliknya. Jadi, anda bisa mencoba dan memulainya sekarang.

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In info
Comments are closed.

Check Also

Dianggap Sebagai Tindakan Pembunuhan, Berikut Pro dan Kontra “Suntik Mati” di Beberapa Negara

Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terutama pada bidang kedokteran telah membaw…